Halaman Depan

Jumat, 19 Juni 2015

Mahasiswa Raup Jutaan dengan Eskrim Rasa Salak Sidempuan

Maraknya perkembangan kuliner saat ini membuat Gemadana Irza Siregar (23) dan Alyefi Asrar (23), Mahasiswa Teknik Industri Universitas Sumatera Utara (USU) menciptakan varian baru rasa es krim. Jika selama ini es krim didominasi oleh coklat, vanilla, atau stroberi, maka dua mahasiswa ini menawarkan rasa baru yakni eskrim rasa salak. Bisnis ini mereka beri nama Zalacca Ice Cream.
Usaha ini berawal dari program Kreatifitas Mahasiswa Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti) tahun 2011 yang diikuti oleh Gemadana dan Alyefi. Sebagai penerima beasiswa Bidik Misi USU, mereka berkewajiban untuk mengajukan proposal dan mengikuti serangkaian seleksi dari Dikti. Tanpa disangka, proposal yang mereka ajukan diterima dan menerima dana bantuan untuk mewujudkan bisnis ini.

“Awalnya saya dan Aly (Alyefi Asrar) hanya coba-coba saja membuat proposal usaha itu. Ternyata Dikti menerima dan memberi modal awal 6 juta rupiah. Dengan ditambah modal dari dana pribadi kami sebesar 4 juta rupiah, mulailah kami merintis usaha ini. Uang 10 juta yang terkumpul kami gunakan untuk membeli peralatan dengan cara mencicil”. ujar Gema.


Ditemui di sela – sela kesibukan perkuliahannya, Gemadana atau akrab disapa Gema menceritakan kisah awal usaha ini. Menurut Gema, bisnis ini dirintis sejak 3 tahun lalu. “Yang membuat ide dengan menjual eskrim ini adalah saya, saya ingin membuat sesuatu yang unik dan berbeda aja. Saya rasa semua orang suka eskrim, tapi harus cari rasa yang baru. Nah, lahirnya eskrim salak ini” ujar Gema.

Zalacca Ice Cream sendiri adalah es krim rasa salak pertama di Indonesia. Sesuai dengan namanya, es krim ini benar – benar terbuat dari buah salak yang diolah bersama bijinya. Bahan baku eskrim ini adalah komoditas buah salak dari Kota Padang Sidempuan yang memiliki rasa yang khas, manis dan sedikit kelat.
Ide ini muncul atas keprihatinan Gema terhadap Salak Sidempuan yang kurang dimanfaatkan dalam industri kuliner. Padahal, salak sidempuan sudah dikenal di masyarakat Sumatera Utara khususnya kota Medan sekitarnya, namun pemanfaatannya hanya sebatas buah pencuci mulut. Gema beranggapan dengan olahan tangan – tangan terampil, salak Sidempuan dapat menghasilkan hasil olahan kuliner yang ekonomis.

 “Hal ini dapat dilihat dari banyaknya salak Pondoh asal pulau Jawa yang dijual di Medan dari pada salak asal Sumatera Utara khususnya salak Sidempuan. Dari situlah muncul ide untuk menjadikan salak Sidempuan sebagai bahan utama pembuatan es krim ini” ujar pemuda asal Kota Salak ini.

Untuk menambah ciri khas Kota Padang Sidimpuan, Gema dan Aly memilih gerobak dengan sepeda motor Vespa untuk menjajakan eskrim salak ini. Vespa dipilih sebab sepeda motor yang satu ini cukup terkenal di daerah Padang Sidempuan sebagai alat transportasi angkutan umum becak.

“Pemilihan Vespa ini pun karena ada kedekatan antara Vespa dan Kota Sidempuan. Kalau orang Sidempuan sudah pasti tahu kalau disana banyak becak yang menggunakan vespa. Kita kan jual eskrim salak dari Sidempuan, jualannya pakai Vespa juga dong, jadi gak setengah – setengah ciri khas Sidempuannya, ha-ha-ha” ujar Gema sambil tertawa.

Dengan banyaknya dukungan dari berbagai pihak termasuk teman sekampus dan pihak dosen, maka Gema dan Aly aktif mengikuti berbagai kompetisi berbisnis untuk menunjang pengalaman mereka. Terakhir, mereka mendapatkan tambahan  modal lewat ajang Mandiri Business Plan pada tahun 2013 lalu.
Hasil penjualan eskrim salak mereka saat ini terbilang terus meningkat. Dari semula menggunakan gerobak dorong sekarang sudah berubah menjadi gerobak yang dilengkapi dengan sepeda motor Vespa, sehingga memudahkan distribusi dan penjualan eskrim. Terkait omzet, Gema memberi sedikit bocoran dengan 3 outlet yang mereka miliki sekarang, omzet berkisar antara 5-10 juta rupiah per bulan. Satu outlet berada di jalan Halat Medan dan dua Outlet lainnya terletak di kawasan kampus USU.
Cerita sukses Gema dan Aly yang sudah bisa menghasilkan uang sejak dari bangku kuliah, bukannya tanpa kendala. Gema dan Alyefi sudah merasakan pahit getirnya merintis sebuah bisnis. Berbagai tantangan sudah mereka lewati diantaranya Vespa pembawa gerobak yang mogok dan penurunan omzet pada saat musim penghujan.
“Ini kan gerobak pakai motor Vespa tua, jadi sering mogok. Kami kadang harus dorong gerobaknya 3-5 Kilometer, belum lagi kalau hujan pasti yang beli cuma sedikit dan kita sudah pasti  rugi. Walaupun bisa dijual lagi tapi tekstur eskrimnya sudah berubah,” ujar Gema.
Pencapaian kedua mahasiswa USU ini ternyata tidak hanya sampai di sini. Dengan ide penjualan eskrim salak, Gema dan Alyefi berhasil menjuarai kompetisi Wirausaha Muda Mandiri  Regional I (Aceh, Sumut, Riau, dan Kepri) dan bulan Maret 2015 lalu Gema dan Alyefi telah mengikuti kompetisi Wirausaha Muda Mandiri lanjutan Tingkat Nasional di Jakarta.

Terkait rencana kedepannya, Gema menuturkan bahwa saat ini dia dan Alyefi sudah membuat rencana jangka pendek, yakni mereka menargetkan dalam satu tahun kedepan bisnis eskrim salak ini bias memiliki 10 outlet. Dan untuk 3 tahun kedepan mereka sudah memiliki food truck. Es krim salak ini juga bisa dipesan lewat program program delivery order gratis dengan radius 3 Kilometer dari Kampus USU.
Dua mahasiswa Teknik Industri ini berencana untuk bekerja sama dengan pihak Bank untuk eskpansi ke luar kota Medan seperti Pekan Baru, Padang dan Aceh. “Rencananya dalam 5 tahun kedepan kami ingin menjual bisnis ini lewat kerja sama dengan pihak swasta berbasis sistem kemitraan. Namun ini masih dalam proses yang cukup panjang karena banyak hal internal yang harus kami matangkan terlebih dahulu. Tentu dalam berbisnis semua pihak ingin diuntungkan, jangan sampai ada yang rugi dong, ha-ha-ha” ujar Gema dengan optimis.

Kamis, 08 November 2012

UTS: Ujian Tetap Selow (hari dua)


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ini adalah sambungan dari cerita tentang UTS hari pertama. Belum baca? Yah, makanya apdet FaisalFound dumzz...:D

Ujian hari 2 : 30 Oktober 2012. Gedung BII/1 FISIP USU. 08.00-10.00 WIB
Mata kuliah: Sosiologi – Pengantar Ilmu Politik

Hah, ini saya tunggu tunggu. Pengantar Ilmu Politik. Entah kenapa saya yakin kali dengan mata kuliah yang satu ini. Kayaknya saya salah jurusan di FISIP. Harusnya masuk Ilmu Pelet Politik bukan Ilmu Komunikasi. Hahaha -__-

Ujian dimulai dengan mata kuliah sosiologi pada pukul 12.15. saya dan RiovaldoKribo , RandyYusran #YogiTamil udah standby ya kan di kelas. Modal binder aja dibolak-balik sama slide dari bang Fuad, itulah modal saya menghadapi ujian. Buku pegangan? Harusnya ada Pengantar Ilmu Politik karangan Meriam Budiardjo, tapi apa daya, Ha na peng (gadak duit), jadi tak tebelik buku itu. Hahaha.

Lima (lima) soal sosiologi saya lahap dengan habis, tanpa ada tersisa. Pertanyaan terakhir yang membuat saya sangat tergelitik.

Pertanyaaannya adalah:

Medan dikenal sebagai kota multikultural di Indonesia. Tidak pernah terdengar konflik sosial yang berbau SARA terjadi di Medan. Menurut Anda, apa yang meyebabkan keadaan Medan seperti itu?

Untuk menjawab pertanyaan ini saya harus menggunakan 1,5 halaman double folio yang disediakan oleh pengawas ujian.

Ada 4 poin utama yang saya paparkan.

Poin 1: suku mayoritas tidak menindas suku minoritas (pendatang) dan tidak pula merasa tertindas dengan suku minoritas. Contoh:
Suku mayoritas Medan: Batak, Karo, Melayu. Udah jelas. Gak usah bedebat. Pecah pala kau nanti.

Suku minoritas: aceh, minang, tionghoa, jawa, dan lain lain.

Penjual sarapan: mayoritas orang jawa.

Penjual makan siang: bukan mayoritas lagi, 100% orang minang.

Penjual makan makanan malam: orang aceh. Itu udah jelas lah. Bu gureng saboh bang *eh keterusan* wkwkwk :D

Nah dari contoh gak jelas diatas, maka kita dapat simpulkan:

Suku mayoritas tidak menindas dan tidak merasa tertindas suku minoritas.
*akhir poin satu*

Poin kedua:
Masih mudahnya mencari lapangan pekerjaan di kota Medan. Walaupun tidak bisa syaya katakan ‘mudah’, namun paling tidak lebih ‘baik’ dari sang Bapak Ibu Kota, Jakarta.

Imbasnya adalah ketika lapangan pekerjaan yang ada ‘tercukupi’, angka konflik sosial akan bisa ditekan sampai ke titik paling rendah.
*akhir poin dua*

Poin ke tiga:
Tidak ada kota di Indonesia yang menurut saya, yang lebih bertenggang rasa antar agama daripada di Medan.

Maksud dari bertenggang rasa nya adalah seperti ini:

Pada hari Idul fitri dan Idul Adha, pelataran parkir Masjid Agung di Jl. Diponegoro Medan akan dipakai untuk solat Id. Permasalahan muncul dari dimana para pesolat akan memakirkan kendaraannya. Parkir di jalanan bisa saja, tapi mau sepanjang apa parkiran yang akan terbuat nanti? Belum lagi nanti kemacetan yang terjadi seusai solat Id?

Maka, disinilah bentuk tenggang rasa antar agama itu terjadi.

Para umat muslim yang akan menunaikan solat di Mesjid Agung dipersilahkan untuk memarkir kendaraannya di pelataran Gereja yang berada tak jauh di depan Mesjid Agung (saya lupa nama gereja nya). Jadi, ketika solat Ied berlangsung, maka secara tidak langsung kaum Kristen turut mengamankan jalannya acara sakral tersebut.

Dan yang terjadi sebaliknya. Ketika ada Misa Natal atau perayaan hari-hari besar umar Kristiani lainnya, maka pelataran parkir Mesjid Agung akan dipergunakan khusus untuk pemisa yang menghadiri acara tersebut (selain pelatarannya digunakan untuk ‘peziarah’ Sun Plaza :D)

Begitu harmonis bukan? Jangan dilihat dari hanya berbagi tempat parkir, tapi lihatlah bagaimana 2 tempat ibadah terbesar di Medan bisa saling berbagi. Nah, ini akan ‘menulari’ kaum Muslimin dan kamu Kristiani yang menjadi umat di kedua rumah ibadah itu untuk menjaga keharmonisan, baik di dalam urusan parkir-berparkir, sampai yang lebih intens; urusan menunaikan ibadah masing-masing agama.

Ini jelas tercantum pada UUD 1945 Pasal 28E Ayat (1) dan (2) (* Perubahan II 18 Agustus 2000) yang berbunyi:  
(1) Setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih
pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan,
memilih tempat tinggal di wilayah negara dan meninggalkannya, serta berhak
kembali.
(2) Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran
dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya.

Jadi apa lagi yang mau dipermasalahkan?

*akhir poin tiga*


Nah itulah yang saya jawab untuk soal nomor 5 UTS Matkul Sosiologi.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beralih ke matakuliah kedua: Ilmu Politik

Seperti yang saya katakana sebelumnya, saya tidak memiliki buku pegangan yang dianjurkan oleh dosen saya yakni: Pengantar Ilmu Politik karya Meriam Budiardjo.

Jadi apalah yang akan saya pelajari? Untungnya ada slide presentasi yang diberikan secara cuma-cuma oleh Bang Fuad (asdos). Itupun hanya 2 pertemuan saja yang Beliau berikan. Alhasil: P.A.S.R.A.H

Namun, siapa sangka, ujian Ilmu Politik ternyata open book alias buka buku ujiannya.

“Tapi gak banyak membantu tuh”, celetuk teman saya.

Bagi saya, bantuan sekecil apapun akan sangat membantu. Dan akhirnya saya bisa menyelesaikan ujian yang menurut saya lebih bisa dikatakan ‘karangan bebas’  daripada jawaban sebuah soal Ujian.

Tapi mau bagaiamanpun, sebuah hasil dari suatu usaha haruslah kita hargai dan banggakan (kalau bisa dibanggakan). Kalau tidak kita yang membanggakan, siapa lagi?

Yang terpenting adalah prosesnya, buka hasilnya. Memang hasil adalah tujuan dari sebuah proses. Namun, apa jadinya jika proses yang terjadi tidak dilakukan secara semestinya? Contoh: semua orang mau kaya. Yang satu usaha mati-matian, nabung, berdoa, solat, namun cuma kaya secuil. Yang satu tinggal ngepet, pesugihan, korupsi, jadi kaya belimpah. Mana yang Anda pilih?


Kita sudah mahasiswa, bijak bijak ya konkawan :)) *bang Rico's quote

Tunggu lanjutan cerita hari ketiga yah :)